News

Let's Play! Ini Tanggal-Tanggal Penting di BGFP 2.0

Blog Single

Board Game for Peace (BGFP) bertujuan untuk melahirkan generasi-generasi muda yang mampu menyebarluaskan dan menyampaikan nilai-nilai perdamaian melalui media permainan (board game). Kita tahu, bahwa kita semua tentu menginginkan dunia ini aman tentram, dan damai. Namun, masih ada saja pihak yang dengan mudah menebarkan kebencian, hasutan, amarah, pelecehan, hingga hal itu melahirkan konflik. Atas dasar inilah, Board Game for Peace diselenggarakan oleh Peace Generation Indonesia.

Setelah lebih dari satu dekade, Peace Generation (Peacegen) membuat program yang cukup berani sebab menggunakan media board game yang selama ini belum pernah Peace Generation gunakan. Selain itu, belum ada pula rekam jejak sebuah program sukses, baik secara makro maupun mikro, di Indonesia yang secara terang-terangan memanfaatkan board game.

Tahun 2017, lebih tepatnya pada bulan September, untuk pertama kalinya Peacegen yang bekerjasama dengan UNDP, PPIM UIN Jakarta, Convey, Masterpeace, Peace Media Lab dan Kumara Game Studio, berhasil menyelenggarakan program dengan nama Board Game for Peace (BGFP). Seperti yang telah dijelaskan, acara ini bertujuan untuk mendidik dan mencetak kaum muda untuk menjadi agen perdamaian.

Acara yang diselenggarakan di lima kota, yaitu Bandung, Solo, Surabaya, Padang, dan Makasar mendapat sambutan menarik dari khalayak, terbukti dengan banyaknya calon peserta yang mendaftar, yang kemudian diseleksi menjadi 60 peserta, gabungan antara pelajar dan mahasiswa. Secara total, acara ini telah melahirkan 300 agen perdamaian dari beberapa kota tersebut. Acara ini berhasil diselesaikan pada bulan Februari 2018 lalu.

Setelah didata, dampak dari acara ini sangat cukup signifkan dan positif. Para peserta yang menyatakan tidak setuju pada kekerasan ekstremisme, terorisme dan radikalisme itu disengaja diciptakan oleh negara. Isu tersebut juga menurut mereka dibesar-besarkan, dan meningkat rata-rata 30% di lima kota. Sedangkan peserta yang setuju bahwa kekerasan ekstrem, terorisme, dan radikalisme itu dibuat untuk memojokan umat Islam menurun rata-rata 26,2%.

Setelah diselenggarakan acara ini, secara umum di lima kota tersebut terjadi peningkatan uuntuk perubahan pengetahuan peserta mengenai violent extremism, termasuk alasan, faktor pendorong dan penarik, media kelompok ekstrem, nilai-nilai perdamaian, hingga upaya yang bisa dilakukan untuk mengurangi resiko kekerasan ekstrem.

Kenapa anak muda harus gabung di event ini?

Media hari ini (khususnya online) banyak digunakan oleh anak muda atau generasi milenial. Terjadi peningkatan jumlah pengguna internet di Indonesia menjadi 143,26 juta pada 2017. Sedangkan penduduk Indonesia pada tahun itu tercatat sejumlah 262 juta orang. Berdasarkan usia, pengguna internet di Indonesia di dominasi oleh anak muda. Antara usia 13-18 tahun, mereka mendominasi ruang-ruang digital tersebut. Tingkat penetrasinya mencapai 75,50 persen.[1]

Dari data tersebut, dapat dilihat peluang untuk menghadang violent extremism dari media yang notabene digunakan oleh anak muda. Anak muda sebagai salah satu bagian yang melahirkan kreatifitas, mampu menjadi agen perdamaian yang bertugas menyemai benih-benih damai kepada khalayak, khususnya kepada anak muda itu sendiri. Acara Board Game for Peace, jika melihat rekam jejak tahun 2017 lalu, menjadi salah satu cara efektif menangkap peluang menyemai benih perdamaian tersebut.

Jika melihat laporan riset dari Pew Reasearch Center pada tahun 2010 yang bertajuk Millenials: A Potrait of Generation Next, ada beberapa karakteristik dari generasi milenial. Pertama, milenial lebih percaya User Generated Content (UCG) daripada informasi searah. Kedua, milennial lebih memilih ponsel dibandung TV. Ketiga, milenial wajib memiliki media sosial. Keempat, milenial kurang suka membaca secara konvensional. Kelima, milenial lebih tahu teknologi dibanding orang tua mereka. Keenam, milenial cenderung tidak loyal namun bekerja efektif. Dan yang kelima, milenial mulai banyak melakukan transaksi secarra cashless.[2]

Dari riset tersebut, terlihat bahwa anak muda hari ini terbiasa dengan hal-hal yang terlihat sederhana namun tak meninggalkan esensi atau inti dari objek yang dihadapi. Event Board Game for Peace yang diselenggarakan oleh Peace Generation Indonesia, menjadi salah satu acara yang bisa memfasilitasi daya kreatifitas anak muda yang dibalut dengan permainan yang menyenangkan.

Isu-isu mengenai violent extremism disederhanakan melalui konsep permainan yang mengasyikan tanpa meninggalkan pesan-pesan kemanusiaan yang menjunjung tinggi perdamaian, hingga sportifitas dalam bermain. Hal itu dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, bagaimana ketika sebuah permainan dengan konsep dan metode tertentu dapat menjadi penyemai nilai-nilai kehidupan yang baik tanpa memunculkan konflik.

BGFP 2.0

Di tahun 2018 ini, BGFP akan kembali hadir di 7 kota baru: Banda Aceh, Cirebon, Palembang, Samarinda, Ambon, Palu dan Bima. Tujuh kota ini sebelumnya sudah dipilih, dan akan menjadi tempat menyemai benih-benih perdamaian, dan mencetak Agent of Peace baru. Tahun ini, aca serupa bertajuk Boardgame for Peace 2.0 (BGFP 2.0).

Di tujuh kota baru ini, PeaceGen akan membawa boardgame baru. Pada BGFP pertma, boardgame yang digunakan adalah Galaxy Obscurio, namun, pada BGFP 2.0 akan ditambah dengan boradgame baru: The Rampung (Rawat Kampung). Nah, Berikut merupakan jadwal agenda lengkap BGFP 2.0 di tujuh kota baru:

Banda Aceh

Penutupan registrasi: 8 September 2018

Wawancara: 6-9 September 2018

Pengumuman peserta lolos: 10 September 2018

Konfirmasi: 11-13 September 2018

Training: 14-16 September 2018

Penutupan online competition: 26 September 2018

Cirebon

Penutupan registrasi: 18 September 2018

Wawancara: 20-23 September 2018

Pengumuman peserta lolos: 24 September 2018

Konfirmasi: 25-27 September 2018

Training: 28-30 September 2018

Penutupan online competition: 10 Oktober

Palembang

Penutupan registrasi: 2 Oktober 2018

Wawancara: 4-7 Oktober 2018

Pengumuman peserta lolos: 8 Oktober 2018

Konfirmasi: 9-11 Oktober 2018

Training: 12-14 Oktober 2018

Penutupan online competition: 24 Oktober 2018

Samarinda

Penutupan registrasi: 15 Oktober 2018

Wawancara: 17-20 Oktober 2018

Pengumuman peserta lolos: 21 Oktober 2018

Konfirmasi: 22-25 Oktober 2018

Training: 26-28 Oktober 2018

Penutupan online competition: 7 Oktober 2018

Ambon

Penutupan registrasi: 30 Oktober 2018

Wawancara: 1-4 November 2018

Pengumuman peserta lolos: 5 November 2018

Konfirmasi: 6-8 November 2018

Training: 9-11 November 2018

Penutupan online competition: 21 November 2018

Palu

Penutupan registrasi: 13 November 2018

Wawancara: 15-18 November 2018

Pengumuman peserta lolos: 19 November 2018

Konfirmasi: 20-22 November 2018

Training: 23-25 November 2018

Penutupan online competition: 5 Desember 2018

Bima

Penutupan registrasi: 26 November 2018

Wawancara: 28 November-1 Desember 2018

Pengumuman peserta lolos: 2 Desember 2018

Konfirmasi: 3-5 Desember 2018

Training: 7-9 Desember 2018

Penutupan online competition: 18 Desember 2018

 

Sumber

[1]https://tirto.id/jumlah-pengguna-internet-di-indonesia-capai-14326-juta-pada-2017-cE3N, diakses pada tanggal 11 September 2018, pukul 11.06

[2]https://student.cnnindonesia.com/edukasi/20160823145217-445-153268/generasi-millenial-dan-karakteristiknya/, diakses pada tanggal 11 September 2018, pukul 11.56

Posted by Admin

Administrator